jump to navigation

motor baru, mobil baru, transportasi umum gimana? Mei 28, 2012

Posted by hendrajaua in Uncategorized.
trackback

Di semester awal tahun 2012 ini, dunia otomotif seakan jor-joran mengeluarkan produk2 baru, baik roda 2 atau roda 4. Semua berebut hati para konsumen dengan berbagai kelebihan teknologi, tingkat kenyamanan yang meningkat dan harga yang semakin kompetitif. Di lain pihak konsumen atau calon konsumen semakin banyak pilihan. Produsen otomotif tak lagi membodohi konsumen. Jika dulu mobil/motor dibanderol lebih mahal hanya dengan ganti baju baru tapi teknologinya masih lama alias itu2 saja, tapi sekarang tidak lagi. Produk baru dengan teknologi yang canggihlah yang dilempar ke pasaran. Ditambah dengan desain yang menarik dan didukung iklan yang inovatif. Pemerintah senang2 saja karena bidang industri semakin maju dan berkembang.

Namun sayang ada hal yang seakan terlupakan oleh pemerintah kita. Faktor transportasi umum. Bertolak belakang dengan kemajuan industri otomotif, bidang transportasi umum seakan jalan ditempat bahkan hampir sekarat. Memang ada usaha2 perbaikan dan inovasi2 yang di coba pemerintah, terutama di kota2 besar. Tapi sayangnya tidak bisa menyentuh ke permasalahan yang sebenarnya.

Seperti kita tahu, transportasi umum mikro yang ada selama ini lebih banyak di miliki oleh individu yang di payungi suatu organisasi. Dari angkutan umum mikro perkotaan, ojek, bus mikro swasta dll. Sedangkan perusahaan transportasi milik pemerintah sendiri terbengkalai. Ibarat pepatah lama, hidup segan mati tak mau. Di Jakarta, pemerintah DKI mencoba meluncurkan moda transportasi baru dan nyaman seperti Transjakarta. Namun, tentu saja masih belum bisa mengakomodir seluruh pelosok wilayah. Banyangkan saja bagai mana mungkin Transjakarta masuk ke jalan2 sempit di wilayah Senen misalnya. Atau di pinggiran seperti di daerah Ragunan atau Lenteng Agung. Dan akhirnya Transjakarta pun semakin lama semakin terbengkalai juga.

Moda transportasi seperti mikrolet, KWK, Metro Mini dll, tetap saja dibutuhkan namun sayang, kualitas pelayanan tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar. Bisa dibandingkan, mikrolet dengan jarak terjauh kita harus membayar sekitar Rp. 3000 s/d Rp. 3500. Apa yang didapat? Panas, desak2an, waktu menunggu penumpang atau biasa disebut ngetem yang lama. Belum lagi jika kondisi kurang ramai penumpang, dengan segala kondisi/waktu perjalanan terkadang kita harus rela diturunkan di tengah perjalanan karena menurut hitungan ekonomis sang supir, penumpang yang sedikit dan jarak tempuh jauh sangat merugikan. Mana bisa nguber setoran kilahnya. Lebih baik rugi sedikit dan mencari penumpang lain ke arah balik yang sepertinya lebih menguntungkan. Belum lagi jika posisi angkutan umum yang mempunyai rute yang sama saling berdekatan. Mereka pun berebut penumpang dengan berbagai cara, dan tentu saja kenyamanan penumpang lah yang dikorbankan.

Itulah sebabnya Jakarta atau kota2 besar lainnya bertambah macet. Dengan kondisi angkutan umum yang menyedihkan,  komuter lebih memilih kendaraan pribadi terutama sepeda motor. Lebih menghemat waktu dan uang. Bagi yang lebih berkecukupan, mereka memilih roda empat. Walaupun ada resiko terkena macet, mereka masih lebih nyaman dengan AC, musik yang bisa dipilih sendiri, dan bebas memilih jalur yang akan dilalui supaya lebih cepat sampai tujuan.

Solusinya bagaimana dong? Saya cuman bisa berharap, pemerintah tidak hanya berpikir makro dan menghitung untung ruginya saja. Harus ada rumusan dan terobosan tertentu yang bisa membuat angkutan umum mikro juga bisa lebih nyaman. Sistem yang ada sekarang sebisa mungkin dirubah. Angkutan mikro dimiliki, diatur dan diawasi oleh pemerintah dan tentu saja dilakukan secara bertahap. Sambil mencari solusi bagaimana mengakomodasi para juragan angkot dan sopir2nya. Bekerja sama dengan para produsen mobil kalau perlu melalui tender terbuka dan juga poling dari masyarakat tipe mobil apa yang akan di pakai seperti warga New York yang di beri kesempatan untuk memilih tipe mobil yang akan dijadikan sebagai taksi di sana. Jika angkutan mikro bisa diatur dengan baik dan bisa bersinergi dengan angkutan umum yang lebih besar seperti Transjakarta dan (nantinya) MRT, saya yakin jalanan Jakarta bisa semakin lengang. Dan masyarakat pun bisa lebih senang.

Salam

Komentar»

1. Kelana 97 - Juli 21, 2012

Bicara transportasi umum ya, kayaknya rumit banget pengelolaanya & banyak kepentingan di situ. Saya cuma pengen angkutan umum yg masih storan di rubah systemnya jadi system gaji. jadi mau sepi mau rame nggak ada lagi istilah kejar storan,nggak ada lagi penumpang diturunkan buat putar arah, & armada angkutan yang sudah tidak layak mending ganti aja (opini ngawur) abaikan sajah 🙂

hendrajawa - Juli 21, 2012

setujuh…:D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s