jump to navigation

Vespa oh vespa, dari underestimated jadi adicted April 16, 2012

Posted by hendrajaua in Uncategorized.
trackback

Wah.. sebenarnya rada malubahas Vespa. Biar sudah cukup lama pakai ini skuter, tapi semakin lama semakin sadar kalo ilmu “PerVESPAan” masih cetek banget.

Jadii, saya tidak akan membahas sejarahnya. Saya tidak akan membahas model2nya, spesifikasi teknis dsb. Saya tidak akan membahas filosofinya. Tapi dalam tulisan ini saya cuma mau share pengalaman saya tentang motor unik satu ini.

Pengetahuan umum (seperti yang kita tahu), Vespa adalah produk dari Piaggio Italia, bertipe skuter. Saya ingat waktu masih SD saya sempat suka bodi dari Vespa Super, sehingga sering saya gambar2 di buku :D. Seiiring waktu, semakin saya  dewasa, semakin tertarik dengan sepeda motor, Vespa sempat terpinggirkan dari pikiran saya. Saya suka heran sepeda motor dengan bodi seberat dan se”semok” Vespa cuman dibekali ban berdiameter kecil (8 – 10 inch). Belum lagi dengan mesin 2 tak 150 cc-nya, kecepatan dan akselerasi yang diraih kalah jauh dibanding motor jepang 2 tak 135 cc (tau kaan motor apa hehehehe..). Tapi entah kenapa, waktu saya beranjak SMA, ada saja waktu yang saya lewati bersama Vespa. Entah itu motor teman yang saya pinjam, atau motor Guru Kesenian saya yang terkadang meminjamkan Vespa PS nya untuk keperluan2 tertentu (kebetulan beliau pembibing ekskul yang saya ikuti di SMA).

Pada saat itu saya mulai menghargai dan mengagumi suspensi-nya.. Bayangin aja, motor lain menggunakan monosok single arm hanya untuk ban belakang.. eh.. Vespa gak tanggung2 single arm di depan dan di belakang dari saya belum lahir. uedan….. cuanggih bener nih orang Itali.

Akhirnya di tahun 2000-an, ketika saya sudah bekerja dan pengen punya motor sendiri. Almarhum bapak saya bilang, “Pake Vespa aja. Lebih aman”. Yup, kala itu Vespa sedang tenggelam pamornya. Dianggap motor rongsok, harga murah, body jadul, dan tentunya luput dari perhatian “maling2″ sepeda motor. Oke beh… aku tak nurut wae… Akhirnya karena kurang paham dengan Vespa, saya minta tolong almarhum untuk mencarikan. Akhirnya terboyonglah Vespa PX th. 1980. Hmm… dari sini saya mulai paham dan menikmati kelebihan dan kekurangan motor ini. Dari sini saya juga mulai mengenal bahwa ada beberapa komunitas penggemar vespa yang membentuk klub. Bengkel yang oke. Aksesoris yang bisa diterapkan dll.

Tapi sayang, tidak lama kemudian ternyata saya harus berpisah dengan PX biru yang mulai disayang. Ternyata nomor seri mesin bermasalah sehingga tak bisa perpanjang STNK… aaah… Akhirnya oleh almarhum “babeh” tersayang motor dikembalikan ke pemilik asal dan uang yang dikembalikan dicarikan Vespa lagi… Kali ini yang datang adalah Excel P150XE tahun 1990. Wah asik nih kayaknya.. tapi ternyata oh ternyata. Elektrik stater (yang merupakan fitur utama dari Excel) sudah gak berfungsi, dinamo staternya sudah entah kemana. Dan ternyata bodinya gak center lagi. Saya coba konsultasikan dengan almarhum, ternyata masih teman dekat yang punya dan sudah dibayar lunas pula. Kalo dibalikan kurang enak katanya. Hmm ya sudah, dari pada nambah ngerepotin orang tua, mending terima ajah…

Beberapa hari kemudian, saya boyong Vespa ini ke bengkel langganan. Gak terasa, sudah hampir 10 tahun saya miliki, banyak kenangan, bertambah ilmu, bertambah kawan dan sahabat sesama pemakai, penggemar dan pecinta Vespa. Banyak juga rubahan yang terjadi dengan Vespa saya.

Dan kebetulan waktu itu saya termasuk suka kecepatan, akhirnya Vespa Excel yang saya ini bermodel Racing, trondol dll. Beberapa ubahan yang saya aplikasikan termasuk “merusak” keindahan Vespa, kadang2 nyesel juga tapi nasi sudah menjadi bubur. Toh saya nyaman dengan Vespa saya. Yah pinjam istilah biker sunda “Motor Aing Kumaha Aing” (motor gue, gimana gue) hehehehehehehe…..

Vespa kesayangan saya ini juga pernah mengalami masa-masa dimanja oleh saya, tapi ada juga masa-masa dia dibiarkan terbengkalai. Pernah mengalami jadi Vespa mulus ke butut ke mulus lagi sampai butuuuutt lagi. Pernah menjadi saksi jalinan cinta yang saya rangkai dengan seorang wanita yang telah menjadi istri dan ibu kedua putra saya.

  

Yups.. inilah Vespa saya.. saya panggil dia “Si Coklat”. Yang sekarang masih butut. Semoga suatu saat nanti ada rezeki dan bisa saya restorasi lagi… (entah dikembalikan ke kondisi standarnya atau mau saya modifikasi lagi?? hehehehehe)..

Amiin..

Salam VESPA

Komentar»

1. Prabu Melaz - April 23, 2012

Sejarah diciptakannya vespa adalah untuk kaum perempuan. Makanya dikasihlah tebeng. Tentunya agar menutupi area kewanitaannya. Dan juga dibuat sesimpel mungkin,agar para wanita bisa mengatasi masalah2 kecil. Contohnya suspensi tunggal(depan belakang) dikandung maksud agar mudah dilepas jika terjadi kebocoran,kmdn dikasih tempat ban cadangan,gigi persneling dan rem juga ditaruh di stang semua.

Namun,seiring perkembangan jaman,jujur saya akui bhw vespa adalah kendaraan yg penuh dg kelemahan. Sampai2 saya berkesimpulan,bhw orang yg bilang bhw vespa itu nyaman adalah orang bodoh. Lain halnya jika bilang SUKA. Karena suka itu sesuatu yg sangat subjective. Ini karena setelah saya amat2i,tidak ada enaknya naik vespa. Saya juga pernah punya vespa selama 3th,dan setelah itu saya benar2 say good bye for vespa.

akhyar - September 22, 2014

rasa suka dan nyaman tiap orang beda-beda bung, siapa bilang vespa di desain awalnya hanya buat cewek/kaum ibu2..? kata siapa?.. coba cek, vespa th 60-70 an sampe sekarang masih kuat, bahkan style body-nya banyak yg di “tiru-tiru- kan” motor versi jepang jaman sekarang. vespa tu simple kog, dan memang bukan di desain buat balapan.. vespa lebih cocok dan lebih adem jika dinikmati pecinta seni. yang tak nyaman berseni mungkin punya gambaran berbeda.

2. Malik Khadafi - Februari 11, 2014

Jika Suka adalah subjektifitas maka nyaman juga adalah subjektifitas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 737 pengikut lainnya.